Museum Seni Lukis Le Mayeur

Untuk Anda para pecinta wisata museum, terutama lukisan, tidak ada salahnya untuk mengunjungi objek wisata yang satu ini. Museum Le Mayeur, lokasi yang strategis berada di pinggir pantai Sanur. Karena lokasinya yang nyaman, indah, menyenangkan, sepi dan jauh dari hingar bingar pada masa itu, dipilihlah lokasi ini sebagai tempat tinggal sekaligus tempat melukis oleh Adrien Jean Le Mayeur De Merpres.



Sejarah Singkat

Nama dari Museum Le Mayeur ini diambil dari nama pendirinya Andrien Jean Le Mayeur De Merpres, pelukis asal Belgia ini keturunan bangsawan terlahir pada tanggal 9 Pebruari 1880 di Ixelles, Brussel, secara akademis menyandang gelar insinyur bangunan. Mungkin karena keturunan dan bakat seni ayahnya yang juga seorang pelukis, maka Le Mayeur lebih menekuni dunianya di bidang seni lukis, bahkan untuk mengasah kemampuan melukisnya sempat berguru pada Ernest Blanc Garin, dan akhirnya berkeliling dunia seperti ke Italia, Perancis, Tunisia, Maroko, Aljazair, Thailand, India, Kamboja dan akhirnya sampai di Bali pada tahun 1932, dengan kapal laut melalui pelabuhan di Buleleng, dan Singaraja adalah kota pertama yang dikunjunginya.



Andrien Jean Le Mayeur De Merpres kemudian melanjutkan perjalanan ke Denpasar dan sewa rumah di Banjar Kelandis Denpasar, dan disinilah awal perkenalannya dengan Ni Nyoman Pollok yang terlahir pada 3 Maret 1917, seorang penari Legong cantik yang masih belia, kemudian dijadikan sebagai model dari lukisanya pada saat pameran lukisan di Singapore di tahun 1933, pameran tersebut sukses dan Le Mayeur pun jadi terkenal. Akhirnya 3 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1935 mereka menikah dengan upacara pernikahan adat Bali. Mereka akhirnya membangun rumah di pinggir pantai Sanur, di atas lahan seluas 32 are, sekaligus sebagai tempat melukis.

Sebagai seorang yang memiliki latar belakang arsitektur bangunan tentu ini cukup membantu Le Mayeur dalam mendesain bangunannya, dikombinasikan ornamen Bali yang dikerjakan oleh Ida Bagus Made Mas. Hasil menjual lukisanya dipakai untuk memperindah rumahnya, dan koleksi lukisan yang dianggap paling bagus dipakai sebagai koleksi pribadi. Pada tahun 1956, Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Bapak Bahder Djohan, datang mengunjungi rumah Le Mayeur, terkesan dengan koleksi dan hasil lukisan pribadinya, kemudian meminta Le Mayeur menjadikan rumahnya sebagai museum, ide tersebut disambut baik oleh Le Mayeur dan terus berkarya untuk menambah serta meningkatkan mutu lukisannya.



Sehingga rencana awalnya hanya tinggal selama 8 bulan saja, namun akhirnya menetap sampai 26 tahun, itupun mereka dipisahkan karena meninggalnya Le Mayeur pada pada tanggal 18 Juli 1958 diusianya yang ke 78 tahun karena kanker telinga parah, setelah impiannya terwujud mendirikan sebuah museum. Le Mayeur sendiri dimakamkan di Ixelles/Elsene, Brusel. Sepeninggal Le Mayeur, museum, tanah dan rumah diwariskan kepada Ni Pollok, dan museum itu sendiri dikelola oleh Ni Pollok. Pada jaman kejayaannya tidak hanya menteri Bahder Djohan sempat bertandang ke rumah Le Mayeur tetapi juga presiden Soekarno dan Perdana menteri India Jawaharlal Nehru.

Pasangan itu sendiri tidak memiliki keturunan, karena keinginan Ni Pollok untuk memiliki keturunan tidak diijinkan oleh suaminya, karena sebagai seorang model lukisannya, takut kalau hamil bentuk tubuh sang model tidak akan ideal lagi. Ni Pollok sendiri pada akhirnya menyerahkan apa yang diwariskan suaminya kepada pemerintah Indonesia dan didedikasikanya sebagai sebuah museum. Sedangkan Ni Nyoman Pollok meninggal pada 27 Juli 1985 diusianya yang ke 68 tahun.


Museum Seni Lukis

Bangunan arsitektur Bali tersebut sekarang ini juga dijadikan sebuah museum, kondisi fisik bangunan sudah cukup tua, saksi bisu kehidupan sepasang suami istri tersebut masih bisa anda saksikan sampai sekarang ini. Tema lukisan dari Andrien Jean Le Mayeur De Merpres bergaya impresionis, sebagian besar wanita Bali bertelanjang dada dan Ni Polok sendiri adalah model utamanya, tema lainnya adalah ekspresi budaya dan keindahan alam. Di Museum Le Mayeur tersimpan sekitar 88 buah lukisan, dibagi dalam berbagai jenis lukisan, sesuai dengan media yang digunakan seperti dengan media kanvas 28 lukisan, hardboard 25 lukisan, bagor 22 lukisan dan bahkan ada media triplek dan juga kertas yang menandakan pada saat tersebut susah mendapatkan media melukis yaitu pada pendudukan Jepang di Indonesia. 

Beberapa lukisan yang cukup terkenal adalah Pollok yang menjadikan Ni Pollok sebagi model tunggalnya, lukisan tersebut dibuat pada tahun 1957 sangat indah dan berani, kemudian ada lukisan Memetik Bunga dan Di Sekitar Rumah Pollok. Cerita yang ada saat proses pembuatan lukisan tersebut, bahwa pada saat pembuatan lukisan sang model harus rela berjemur berjam-jam di bawah terik matahari dan tidak boleh bergerak dan mengeluh, padahal tema lukisan sang maestro lebih banyak bertelanjang dada. Hasil karya seni sang pelukis juga tidak semuanya dengan cat minyak ada dengan cat air bahkan pensil selain media kanvas juga tikar jerami yang halus, triplek dan kertas, karena saat itu susahnya bahan yang didapatkan dari Belgia karena jaman penjajahan Jepang. 





Lokasi
Museum Le Mayeur terletak di kawasan wisata Pantai Sanur, Kota Denpasar, Provinsi Bali.
Dari pusat kota Denpasar, perjalanan menuju Museum Le Mayeur dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi maupun angkutan umum (bemo). Angkutan umum (bemo) menuju kawasan Pantai Sanur dapat diakses melalui terminal Kreneng, Kota Denpasar, dan akan mengantarkan pengunjung sampai ujung jalan Hang Tuah. Dari tempat ini, pengunjung harus melalui jalan setapak menuju lokasi museum dengan jarak ± 70 m.


Tiket Masuk*

Dewasa: Rp 10.000/orang
Anak: Rp 5.000/orang

Jam buka museum Le Mayeur: Hari Senin – Kamis (Pkl 08.00-14.00), Jumat (08.00-11.00), Sabtu (08.00-12.30), Minggu (tutup)


Setelah menikmati sajian karya seni di Museum Le Mayeur, wisatawan dapat mencicipi masakan khas Bali di warung-warung yang berada di sepanjang Pantai Sanur. Apabila memerlukan penginapan, berbagai macam penginapan mulai dari hotel kelas melati hingga hotel berbintang banyak terdapat di kawasan ini. Untuk melengkapi kunjungan, tentu saja tak lengkap kalau tidak membeli beraneka cinderamata khas Bali yang dijual di kios-kios suvenir di sekitar Pantai Sanur. Selain indah, harganya juga cukup terjangkau.

Lets get lost in Bali with #kaburkebali
Ingin Paket Tour and Activities? Klik http://bit.ly/2jGFert

Share on Google Plus

About Tiesna Sulistiana

We are an online tourist information that helps you to book all kinds of an outdoor activities while you are in bali. We are able to offer you the lowest price and easiest reservation.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment