Sejarah Hari Raya Galungan dan Kuningan

Sebelumnya, tidak lupa kami ucapkan selamat "Hari Raya Galungan dan Kuningan" untuk para pembaca dan teman - teman yang sedang merayakan.

Rahajeng nyanggra rahina Galungan lan Kuningan…Dumogi Ida Sang Hyang Widhi ngicen kerahajengan lan kerahayuan ring iraga sareng sami…

Perayaan Hari Raya Galungan, identik dengan penjor yang dipasang di tepi jalan, menghiasi jalan raya dengan keindahan dan keunikan hiasan yang terdapat pada penjor tersebut. Di jaman yang sudah modern ini, apalagi Bali sebagai tujuan pariwisata, Bali kerap disorot sebagai pulau yang indah sekaligus religius.

Penjor adalah bambu yang dihiasi sedemikian rupa sesuai tradisi dan adat masyarakat Bali setempat.
Dekorasi penjor saat perayaan Galungan di Bali

Adapun Hari Raya Galungan adalah hari dimana umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta beserta seluruh isinya. Serta merayakan kemenangan kebaikan (dharma) melawan kejahatan (adharma). Sebagai ucapan syukur, umat Hindu memberi dan melakukan persembahan pada Sang Hyang Widhi dan Dewa Bhatara.

Penjor yang terpasang di tepi jalan (setiap rumah) sendiri merupakan haturan ke hadapan Bhatara Mahadewa (sebagaimana di kutip Wikipedia).

Arti kata Galungan
Kata Galungan sendiri diambil dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung. Biasa disebut juga “dungulan” yang artinya menang. Perbedaan penyebutan Wuku Galungan (di Jawa) dengan Wuku Dungulan (di Bali) adalah sama artinya, yakni wuku yang kesebelas.


Kapan Galungan dirayakan pertama kali?
Asal usul Hari Raya Galungan memang sulit dipastikan kapan tepatnya pertama kali diadakan, oleh siapa dan dimana. Namun menurut Drs. I Gusti Agung Gede Putra selaku mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI mempekirakan Hari Raya Galungan sudah dalam dirayakan oleh umat Hindu di seluruh Indonesia sebelum populer di Pulau Bali.

Tapi menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) di tahun 882 Masehi atau tahun Saka 804. Lontar tersebut berbunyi: “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.” Artinya: “Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.”

Lontar sendiri bisa disebut ibarat pustaka suci (yang disucikan) / kitab pedoman dan disimpan oleh umat Hindu.

Galungan dan Kuningan dirayakan sebanyak dua kali dalam setahun kalender Masehi (kalender yang biasa kita pakai). Jarak antara Galungan dan Kuningan sendiri ialah 10 hari. Perhitungan perayaan kedua hari raya tersebut berdasarkan kalender Bali.

Galungan setiap hari Rabu pada wuku Dungulan. Sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan. Di tahun 2017, Galungan dirayakan pada 5 April 2017 dan 1 November 2017. Kuningan di tahun 2017 dirayakan pada 15 April 2017 dan 11 November 2017.

Umat Hindu di Bali merayakan Galungan dengan bersembahyang di Pantai Padanggalak,
Denpasar. Foto: Kompas.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan
Secara filosofis, Hari Raya Galungan dimaksudkan agar umat Hindu mampu membedakan dorongan hidup antara adharma dan budhi atma (dharma = kebenaran) di dalam diri manusia itu sendiri. Kebahagiaan bisa diraih tatkala memiliki kemampuan untuk menguasai kebenaran.

Dilihat dari sisi upacara, adalah sebagai momen umat Hindu untuk mengingatkan baik secara spiritual maupun ritual agar selalu melawan adharma dan menegakkan dharma. Bisa disimpulkan bahwa inti Galungan ialah menyatukan kekuatan rohani agar umat Hindu mendapat pendirian serta pikiran yang terang, yang merupakan wujud dharma dalam diri manusia.

Kesimpulannya, hakikat Galungan adalah perayaan menangnya dharma melawan adharma.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

Pada hari Jumat Wage Kuningan yang juga disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama sebenarnya tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan pada hari ini, hanya berupa anjuran untuk melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah pikiran yang buruk/kotor). Keesokan harinya yakni Sabtu Kliwon atau disebut Kuningan, dalam lontar Sundarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari. Serta menghindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga).

Demikian sejarah singkat Hari Raya Galungan dan Kuningan di Bali, semoga bermanfaat.

Share on Google Plus

About Tiesna Sulistiana

We are an online tourist information that helps you to book all kinds of an outdoor activities while you are in bali. We are able to offer you the lowest price and easiest reservation.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment